Kontroversi ayat-ayat cinta (buku dan film)
sebuah hasil pemikiran akan selalu memiliki pihak-pihak yang pro dan kontra (netral juga). Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam pola pikir, sudut pandang, alat analisa, wawasan, ilmu, dan perbedaan pada beragam hal lainnya. Tidak terkecuali hasil pemikiran yang berbentuk karya seni. Lihat saja kasus ayat-ayat cinta.
Pada kawasan Indonesia, buku novel ayat-ayat cinta sebagai hasil pemikiran penulisnya telah menuai kritik dari para pihak yang kontra sekaligus mendapatkan beragam pujian dari pihak yang pro. Kritik utama dan paling sering diungkap ke hadapan umum adalah keluarbiasaan Fahri sebagai tokoh utamanya. Menurut para pengritik, sosok fahri terlalu sempurna untuk ukuran seorang manusia. Oleh penulisnya, fahri digambarkan sebagai manusia yang taat beragama, cerdas, ulet, sensitif terhadap masalah sosial, pemberani, tegas, baik hati, setia, dan paham ilmu agama. Fahri menjadi seorang mahasiswa yang selalu mendapatkan gelar “luar biasa” selama dia kuliah. Penggambaran tersebut, dianggap oleh para pengritik sebagai sebuah ketidakmungkinan, atau bisa disebut sebagai khayalan tingkat tinggi, sehingga ada salah seorang saudara saya yang membuat tugas tentang ini dengan memberi judul “matinya sang pengarang”.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama para pengritik, mungkin sosok seperti fahri masih berupa angan-angan saja, karena mereka belum pernah melihat manusia yang memiliki gambaran seperti Fahri. Bagaimana dengan pendapat penulisnya?
“…bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada. Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti fahri …”
(http://guahira.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=16&Itemid=47)
itulah pendapat sang penulis terhadap tokoh gambarannya.
Sama halnya pada format buku, film ayat-ayat cinta pun mendapatkan pihak-pihak yang pro dan kontra. Meskipun film resminya belum ditayangkan di bioskop mana pun selain dalam rangka premiernya, tapi kritik dan pujian sudah mulai bermunculan, ada tiga kemungkinan. Pertama, komentator mengomentari dari hanya sebatas yang dia lihat di premier film, yang sebenarnya belum sepenuhnya rampung. Kedua, komentator mengomentari berdasarkan film bajakannya, yang sebenarnya berasal dari premiernya. Ketiga, komentator mengomentari berdasarkan cerita dari orang yang pernah melihat premiernya atau dari film bajakannya.
Kritik-kritik yang muncul lebih kepada ketidaksesuaian film dengan novel. Kritik juga tertuju pada kurang syar’i nya film ayat-ayat cinta. Film yang berasal dari novel ini dikritik sebagai film yang lebih mirip sinetron-sinetron religi yang sering ditayangkan di televisi. Hal yang menarik dalam fenomena film ayat-ayat cinta bukanlah apa yang dikritik oleh para pengritik, tetapi lebih kepada siapa para pengritik.
Pihak pemberi pujian memiliki keanekaragaman jika dibandingkan dengan pihak pemberi kritik. Para pengritik didominasi oleh para manusia yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai aktivis dakwah Islam. Mereka adalah orang-orang yang umumnya beraktivitas dan berjuang serta bertujuan untuk menegakkan syari’at Islam di kalangan masyarakat. Umumnya mereka pun termasuk orang-orang yang pernah membaca novel ayat-ayat cinta. Terlepas dari apakah mereka termasuk para pengritik novel atau pemuji novel, yang jelas mereka menganggap bahwa film ayat-ayat cinta berbeda dengan novel ayat-ayat cinta. Menurut mereka film ayat-ayat cinta tidak layak untuk ditonton karena nilai dakwahnya tidak sebanding dengan novel ayat-ayat cinta, bahkan ada beberapa bagian yang justru dianggap meruntuhkan image aktivis dakwah.
“Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Bisa kebayang bukan, siapa yang akan menonton film ini.”(http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/3).
Itulah pandangan pembuat filmnya tentang film ayat-ayat cinta.
Berikut ada kutipan yang isinya adalah “sesuatu” dari salah seorang tokoh penulis yang juga merupakan seorang aktivis dakwah
“Seperti kata seorang teman, “Bisa jadi film itu memang cukup memadai buat sebagian penonton, tahu sendiri selera sebagian besar penonton Indonesia… bisa diukur dari sinetron-sinetron di tivi. Film AAC memang dibuat bukan untuk penonton macam ‘kita’”.
(http://forum.dudung.net/index.php?topic=2812.285)
sebagai penutup, ada baiknya sebelum kita mengomentari sesuatu, komentarilah terlebih dahulu diri sendiri, sudahkah kita melihat beragam sisi yang sebelumnya belum pernah dilihat? Sudahkah kita melihat apa yang dilihat oleh yang akan kita komentari? Sudahkah kita melihat apa yang subjek komentar kita ingin perlihatkan kepada orang lain? Jika anda menanyakan kembali pertanyaan itu kepada saya, maka jawaban saya adalah “sudah, meskipun tak sempurna”.
Ngapain kuliah
Gimana rasanya setelah menjalani “liburan” smester ini? Bosen ga selama masa liburan? Kangen ga sama bangku kuliah? Kalo nggak, patut dicurgai tuh… Jangan-jangan termasuk orang yang ga punya motivasi kuliah neh… atau lebih parah lagi, karena emang ga punya niat buat kuliah sejak awal ya… atau karena ngerasa liburnya kurang ya… ayo… ngaku deh….
Tenang, jangan kabur dulu… tulisan ini ga bertujuan buat nge-underestimate kamu kok… cuman mau nyepet aja. Coba deh perhatiin disebelah kamu, ada orang ga? Kalo ga ada coba cari dulu. Kalo dah ada tanya, “gimana rasanya masuk kuliah setelah libur?”, mungkin bagi sebagian orang ada yang menjawab dengan satu kata “Males”. Walaupun mungkin ada juga yang berkata “seneng atuh” walaupun jumlahnya ga banyak, dan kebanyakan karena ada motivasi lain, misalnya biar bisa ngedate lagi sama dosen.
Terlepas dari seneng atau malasnya kamu untuk menjalani lagi kuliah setelah liburan, ada beberapa hal penting yang terkadang terlupakan. Bukan bermaksud menasehati apa lagi menggurui, tapi cuman mau ngasih petuah aja. Mau tau hal apa saja yang sering terlupakan itu? Dengerin… eh, baca lanjutan tulisan ini baik-baik.
Ngapain sih kuliah?
Ayo jawab, mumpung pertanyaanya belum keluar di UAS. Pasti banyak jawaban yang kamu punya. “menambah ilmu”, “memperluas wawasan”, “biar bisa kerja”, “memenuhi perintah ortu, biar mereka seneng”, “memperpanjang riwayat pendidikan formal”, “biar ada kerjaan dari pada bengong di kamar”, “iseng”, “menambah teman sekaligus gebetan”. Kalo jawaban kamu ada diantara tulisan di atas, kamu kudu baca lanjutan ceritanya. Nah, beruntunglah orang-orang yang jawabannya ga ada di atas, karena diharuskan untuk membaca lanjutan tulisannya agar ga bingung.
Kuliah ngapain aja?
Kegiatan sampingan seorang mahasiswa harus dikesampingkan a.k.a ditinggalkan terlebih dahulu selama masa kuliah, karena dapat menimbulkan efek samping yang dapat mengenyampingkan tujuan utama kuliah. Apa saja yang termasuk kegiatan sampingan? Bukan hanya Tuhan saja yang tahu tentang hal itu. Kamu juga harus tahu, agar bisa tersesat ke jalan yang benar dan tidak kembali ke jalan yang salah. Kuliah merupakan salah satu tempat yang disediakan untuk memakan bangku pendidikan selama memegang gelar mahasiswa, walaupun sebenarnya pendidikan tidak pernah jadian dengan sesuatu yang disebut tempat, waktu dan status.
Kembali ke si topik. Salah satu cara untuk mengetahui apa yang menjadi sampingan mahasiswa adalah dengan mengetahui kegiatan utama, dan satu-satunya kegiatan utamanya adalah makan bangku kuliah. Jadi selain kegiatan makan bangku kuliah harap dilupakan dulu, kecuali kalo proses makannya dah terkontrol dan terkendali.
Makan bangku disini bukan berarti hanya dateng, duduk, dan diam di tempat perkuliahan, tapi juga turut berperan aktif, kreatif, inovatif, dalam menyelesaikan tugas dan memecahkan permasalahan bangsa. Benarkah? Ya iyalah masa ya iya sih. Makan bangku juga bukan berarti hanya mendengarkan suara merdu bapak dan ibu dosen. Dan yang pasti, makan bangku bukan berarti menyaingi rayap dalam menghabiskan kayu-kayu atau bahakan besi yang ada.
Seperti yang udah ditulis di atas, pendidikan tidak pernah jadian dengan sesuatu yang disebut tempat, waktu dan status. Dia masih jomblo. Dan karena kejombloannya itulah maka dia bisa bebas bermain dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Tampaknya, pendidikan hanya akan menjadikan ketiganya sebatas teman akrab. Jadi belajarlah dengan tidak hanya makan bangku kuliah, cobalah makan makanan yang lain. Ada meja UKM, pintu Ormas dan lain sebagainya.
Masih bingung dengan tulisan ini? Bersyukurlah karena berarti otak kamu masih berfungsi dengan baik. Lanjutin deh bacanya.
Tulisan ini sudah selesai. Jika kamu merasa bingung, pusing, aneh… itu wajar, karena sekali lagi, otak kamu masih berfungsi dengan baik. Begitu banyak hal-hal lain yang lebih bermanfaat dari pada hanya sekadar membaca ulang tulisan ini, atau mencari lanjutan tulisan ini, karena sekali lagi, tulisan ini sudah selesai.
NB : Jika masih penasaran silakan saja baca ulang tulisan ini. Mungkin ada huruf yang terlewat.
Masih NB : Hanya ada satu kalimat kesimpulan bagi anda yang benar-benar penasaran sampai mau membaca hingga titik terakhir, yaitu “Kuliah tetap perlu, karena kuliah tidak hanya berada di ruang kelas”.
sekadar pengguguran kewajiban
Akhirnya selesai juga menulis sesuatu-yang-mirip-sebuah-biografi. meski telat dari deadline. Meski tidak sesuai dengan time schedule yang sengaja dibuat sendiri. meski isinya benar-benar masih jauh dari “hasil terbaik yang bisa diberikan”, meski hanya menjadi sebuah pengguguran kewajiban, tapi, akhirnya tugas itu memang telah ditunaikan, apapun hasilnya, apapun tanggapan orang lain, apapun yang akan terjadi nanti.
tugas ini muncul kurang lebih satu bulan yang lalu. saat itu kang agus menawari salah seorang “musuh” saya sesama operator warnet, yaitu donny untuk membantunya membuat sebuah buku yang berisi tentang profil blogger. entah bagaimana ceritanya, yang jelas saya dijerumuskan oleh donny ke dalam proyek itu. sayangnya usul itu diterima oleh kang agus.
berhubung saat itu sedang tidak ada kegiatan selain, ngurus aktivasi kuliah (smester kemaren cuti), ngurus registrasi ulang, ngebantu persiapan PJDnya UKPM Birama, jaga warnet, memoderasi forum diskusi di internet, belajar bahasa arab online, bengong, tidur, makan, maen game dan aktivitas-aktivitas yang-menurut-saya-sangat-penting lainnya, saya pun menerima tawaran tersebut.
saya pun memulai dengan menghubungi para target tokoh via email untuk meminta biodata dan data-data pribadi lainnya, agar mempercepat proses penulisan. sayangnya di tengah kekosongan waktu saya yang sangat banyak tersebut banyak sekali rencana-rencana pencapaian target yang harus terundur. begitu banyak alasannya, sehingga tampaknya tidak layak untuk ditulis di sini satu pun.
sekali lagi, akhirnya selesai juga proses penulisannya, akhirnya selesai juga tugas yang diberikan kepada saya, akhirnya kembali lagi waktu saya yang memang sejak dahulu tidak pernah kemana-mana. akhirnya…..
—–
silakan baca kondisi donny selama membuat tulisan, di http://mind.donnyreza.net/07022008/kejar-setoran