memaknai pernikahan
saya membuat tulisan ini bukan karena saya akan segera menikah. bukan pula karena saya telah merasa punya banyak ilmu tentang pernikahan. tulisan ini hnya sebuah kado untuk ibu saya yang pada tanggal 21 februari 2007 telah menikah lagi. (Barakallahu laka wa baraka alayka wa jama’a baynakuma fii khair)
saat ini tampaknya banyak orang yang salah memaknai arti sebuah pernikahan. banyak orang yang salah dalam menjalankan sebuah bahtera pernikahan. banyak orang ang salah dalam menyusun pondasi pernikahan. mungkin semua disebabkan kesalahan paradigma yang digunakan dalam melihat pernikahan.
banyak yang memandang persamaan adalah kunci keberhasilan dalam pernikahan. banyak yang menikah karena merasa sama dengan yang akan dinikahi. banyak yang menikah karena sepemikiran dengan yang dinikahi. menikah karena sevisi dalam menjalani kehidupan. paradigma itu memang benar tapi kurang tepat. sebab sebenarnya menikah bukannya menyatukan persamaan, tetapi menyatukan beragam perbedaan untuk dapat saling melengkapi. pria baik-baik hanya untuk wanita baik-baik, dan wanita baik-baik hanya untuk pria baik-baik.
banyak yang menganggap menikah hanya untuk menyatukan dua hati. mereka menikah hanya untuk menyalurkan rasa cinta mereka. mereka tak peduli terhadap pandangan orang lain tentang pernikahan mereka. dan mereka menikah karena terdorong oleh ego dan nafsu mereka. padahal pernikahan adalah salah satu upaya perkembangbiakan manusia. pemeliharaan eksistensi manusia. eksistensi manusia yang manusia. manusia yang memiliki budaya manusia dan bertingkah sesuai fitrahnya sebagai manusia. sekaligus cara pewarisan budaya yang ada.
banyak yang menikah karena hanya ingin bisa menyalurkan birahi saja. mereka memilih menikah hanya sebagai syarat untuk melegalkan keinginan birahi mereka. mereka tidak mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah pendidikan keluarga. mereka kurang menyiapkan diri untuk memelihara keturunan mereka. padahal menikah bukan hanya untuk itu. menikah berarti langkah untuk menguatkan keimanan. menikah pun merupakan usaha untuk saling melindungi dan menguatkan. menikah memiliki konsekuensi yang cukup berat. karena berarti setelah menikah maka akan ada tugas pembentukan generasi penerus yang lebih baik dari mereka. minimal tugas mereka adlah menjadi teladan bagi para generasi penerus mereka.
mungkin kesalahan-kesalahan paradigma tersebut yang memicu orang untuk memilih tidak menikah. mungkin pula hal itulah yang memilih orang untuk mengharamkan/ menolak poligami. mungkin fenomena kawin-cerai disebabkan kesalahan pradigma juga. mungkin itu pula yang menjadikan orang merasa aneh dengan pernikahan kedua atau lebih di usia lanjut.
menikah bukan hanya untuk menyatukanm dua hati, atau menyalurkan birahi, atau menyatukan persamaan. menikah adalah sebuah bentuk ibadah. di dalamnya ada usaha untuk saling melengkapi dan menguatkan. ada usaha pewarisan dan pelestarian budaya. ada proses edukasi untuk menciptakan generasi penerus yang lebih baik. ada hal-hal yang tentunya tak bisa diketahui jika belum menikah, meskipun telah hidup bersama.
mari bercita-cita untuk mati
terinspirasi oleh postingan salah seorang saudara saya, sekaligus sebagai klarifikasi dari replyan saya pada postingan tersebut, aka tulisan ini saya hadirkan untuk anda.
mati merupakan perkara yang terlihat mudah. padahal jika direnungi lebih dalam, mati merupakan hal yang sangat sulit. banyak anggapan bahwa semua makhluk hidup akan mati. kematian bisa menunggu ajal, bisa pula dengan mempercepat ajal, dengan dengan cara bunuh diri. namun, apakah orang yang mati itu memang telah mati?
sesuatu dapat dikatakan telah mati jika sebelumnya dia pernah hidup. jadi untuk mengetahui seperti apa itu mati, kita perlu tahu bagaimana agar bisa dikatakan hidup. sebab mati dan hidup adalah dwi tunggal,(ini klarifikasi terhadap replyan saya pada blog saudara saya. ada sebutan benda mati karena ada benda hidup. seandainya tak ada kematian maka tak akan ada kehidupan.
bagi manusia, hidup bukan hanya berarti dapat bergerak, tumbuh, makan dan minum, istirahat, berkembang biak dan berfikir. manusia dapat dikatakan hidup jika ia telah dapat menjalankan fitrahnya. manusia bukanlah makhluk dunia yang mempelajari ilmu langit, tetapi manusia adalah makhluk langit yang sedang mempelajari ilmu dunia.
pernahkah terpikir alasan kenapa manusia bisa hidup di dunia ini? atau lebih luas lagi, kenapa dunia ini bisa ada? apakah karena kebutulan terjadi big bang atau apapun itu? atau memang telah ada yang merencanakan untuk pembuatan kehidupan ini? jika memang ada yang merencanakan, tentunya sang perencana itu pun memiliki sesuatu terhadap manusia.
kembali ke mati. apakah kini kita telah yakin bahwa diri ini memang hidup? apakah jiwa anda telah merasa yakin kelak akan mati? apakah kelak kematian akan membuat kita mati? atau sebenarnya saat ini kita masih mati? lalu bagaimana kita akan dianggap mati saat kematiaan kita datang, jika saat ini saja kita belum pernah hidup. maka bercita-citalah untuk bisa mati, karena berarti saat ini kita harus berusaha untuk hidup, karena untuk bisa mati kita harus bisa hidup terlebih dahulu, atau maukah kita disebut sebagai makhluk mati selamanya?.